Senin, 28 November 2011

IBU TANGGUH, ARSITEK GENERASI UNGGUL



Wanita adalah tiang negara.  Ungkapan ini demikian akrab dalam ingatan kita, sehingga saking akrabnya, kita terkadang lupa untuk mengingat kedalaman makna yang dikandungnya.
Sebagaimana layaknya sebuah tiang, wanita diibaratkan sebagai penyangga bagi tegaknya sebuah masyarakat/negara.  Ini berarti keberadaan kaum wanita baik dan buruknya, sangat menentukan eksis tidaknya  sebuah masyarakat atau negara, mengingat bahwa wanita, terutama dalam kedudukannya sebagai ibu berperan sangat penting  dalam membentuk dan membangun sosok suatu generasi. Wajar jika dalam pandangan Islam, sosok Ibu diposisikan  sebagai figur sentral pendidikan dengan menjadikannya sebagai madrasah pertama (madrâsat al-ûlâ) bagi anak.
Jika kita tengok gambaran masyarakat Islam masa dahulu, akan kita dapati bahwa pada masa-masa itu telah lahir sosok generasi berkepribadian Islam mumpuni, yang rata-rata memiliki mentalitas mujahid sekaligus intelektualitas mujtahid. Pada diri mereka tertanam keyakinan yang kuat, bahwa mereka ada semata-mata demi dan untuk Islam.  Sehingga dengan ghirah yang demikian,  umat Islam saat itu mampu bangkit menjadi “khoiru ummah” yang memimpin umat-umat lain dalam seluruh aspek kehidupan mereka, menjadi mercusuar peradaban luhur manusia yang eksis hingga  belasan abad lamanya.
Keberadaan generasi yang demikian sekaligus menunjukkan keberhasilan para ibu terdahulu dalam mendidik anak-anak mereka, hingga mereka  benar-benar menjadi  generasi rabbani yang unggul, yang mengerti  tentang arti dan hakekat hidup, makna kebahagiaan hakiki dan  semangat pengabdian pada Islam. Hal ini niscaya, mengingat dalam sosok para ibu terdahulu juga tertanam keyakinan yang kuat, bahwa anak adalah amanah Allah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.  Yakni hari dimana semua amal perbuatan manusia, baik dan buruk, akan ditampakkan dan  dihisab  untuk  kemudian diberi  balasan yang  setimpal. Para  ibu ini juga mengerti, bahwa tidak ada satupun yang bisa memberikan kebahagiaan hakiki pada anak-anak mereka selain iman dan ketaqwaan. Sehingga tak ada harta yang mereka wariskan kepada anak-anak mereka, selain keimanan yang kuat, kecintaan akan ilmu dan amal shaleh serta semangat berkorban demi kemuliaan umat dan Islam semata. Sampai-sampai tak jarang kita dapati kenyataan, bagaimana para ibu dimasa itu rela melepas anak-anak kesayangan mereka untuk menjemput maut atau meraih kemuliaan yang mungkin diperoleh di medan-medan jihad fi sabilillah.

Bagaimana dengan Sekarang ?

Jika kita refleksikan ke masa sekarang, keprihatinanlah yang justru muncul.  Bagaimana tidak? Saat ini kita sulit menemukan gambaran generasi rabbani dalam wadah masyarakat yang Islami.  Yang ada justru masyarakat "tanpa bentuk" dengan anak-anak yang mayoritas terdidik oleh para ibu yang hedonis dan materialistis.  Yakni para ibu, yang sekalipun tak sedikit dari mereka sempat mengenyam pendidikan tinggi, tapi tak cukup cerdas untuk mengerti makna hidup dan tujuan sesungguhnya dari keberadaan mereka di dunia ini. Mereka juga tak mampu memahami  apa yang dipahami para ibu terdahulu, bahwa anak adalah amanah yang harus mereka didik sesuai dengan kehendak pemberi amanah, yakni Allah SWT sebagai al-Khaliq al-Mudabbir.  Yang justru mereka pahami hanyalah, bahwa anak adalah semata aset ekonomi yang harus mereka didik demi dan untuk tujuan-tujuan materi, hingga tak sedikit dari mereka yang dengan ringan hati menyerahkan peran dan tanggungjawab keibuannya kepada orang lain, pembantu rumah tangga, lembaga-lembaga pendidikan, bahkan televisi!
Dari sini nampak, betapa para ibu kita, sebagaimana gambaran masyarakat kaum muslim pada umumnya, lebih suka mengadopsi pemikiran-pemikiran yang bersumber dari paham kapitalis sekuler daripada menjadikan Islam sebagai standar berpikir dan berperilaku.Dan hal ini diperparah oleh kenyataan, bahwa  sistem hidup yang mengungkung kaum muslimin saat ini adalah sistem hidup kapitalistik yang sama sekali  tidak Islami, yang mensandarkan pengaturan hidupnya pada akal manusia yang serba lemah dan terbatas.
Dengan kondisi yang demikian, wajar jika kepribadian generasi muda Islam saat inipun cenderung  menjadi  sangat  rancu dan  jauh dari  nilai-nilai Islam. Mereka bahkan  tersibghah gaya hidup serba permissive/bebas yang lahir akibat proses sekularisasi pemikiran dan sekularisasi gaya hidup yang berjalan secara perlahan melalui berbagai cara dan bentuk.  Wajar pula jika mereka tumbuh menjadi generasi yang berkepribadian ganda, ambivalen dan  lebih suka menjadi pengekor dan pembebek daripada berusaha bangkit berjuang untuk kembali memimpin umat-umat lain di dunia.
Sebagian dari mereka bahkan lebih akrab dengan alkohol, narkoba, pergaulan bebas, dan kriminalitas. Mereka menganggap bahwa gaya hidup seperti itu merupakan ekspresi kehidupan modern yang harus mereka tiru dan mereka junjung tinggi.  Padahal dengan cara ini  mereka justru sedang menunjukkan karakter inferior mereka di hadapan kaum kafir  yang jelas-jelas memusuhi Islam dan kaum Muslimin.  Mereka sama sekali tidak menyadari, bahwa saat ini, mereka sedang terjebak dalam perangkap yang dipasang oleh musuh-musuh Islam yang tidak pernah menghendaki agar Islam tegak kembali di tengah-tengah kancah politik dunia. 
Dengan kata lain, kondisi ini sekaligus menunjukkan, bahwa untuk dan hingga saat ini, kaum kafir telah cukup banyak menuai hasil dari skenario jahat (makar) mereka dalam upaya menjauhkan kaum muslimin (terutama anak-anak dan generasi muda) dari aqidah Islam dan aturan-aturannya yang sempurna.  Salah satunya adalah dengan menggiring para muslimah ke kancah kehidupan materialistis dan individualis seperti yang gencar diserukan oleh para feminis melalui ide-ide emansipasi dan ide kesetaraan dan keadilan gender (KKG).  Dan hasilnya, banyak di antara muslimah yang terkecoh, sehingga mereka lebih suka menanggalkan kebanggaan menjadi seorang ibu, daripada harus kehilangan kesempatan untuk meraih karir yang setinggi-tingginya.   Peran ibu,  kini dianggap tak lagi menjanjikan dan menjadi simbol kemuliaan seorang wanita, melainkan justru menjadi simbol keterbelakangan, keterkungkungan dan keterjajahan para wanita oleh pria.  Akibatnya, anak-anak yang mereka lahirkanpun tumbuh tanpa asuhan dan didikan, sehingga sebagian besar dari mereka tak lebih dari anak-anak tanpa masa depan, yang tidak bermanfaat, meski bagi dirinya sendiri sekalipun !. Lantas, bagaimana mungkin kita gantungkan harapan masa depan ummat pada pundak-pundak yang rapuh seperti ini ? 

Pentingnya Mengoptimalkan Peran Ibu
            Menghadapi kondisi buruk yang terjadi, kita diperintah untuk tidak berpasrah diri.  Laa yughoyyiru maa bi qoumin hattaa yughoyyiru maa bi anfusihim. Apalagi masa depan ummat ini mau tidak mau menjadi salah satu tanggungjawab kita, termasuk upaya untuk mengembalikan kemuliaan ummat dengan membangun kembali sosok generasi mumpuni sebagaimana generasi-generasi terdahulu.  Caranya tidak lain dengan membimbing dan membina para ibu ummat saat ini agar juga memiliki kualitas sebagaimana para ibu terdahulu.  Tentu saja hanya dengan merujuk pada standar Islam.
            Islam, sebagai din yang lengkap dan sempurna telah menempatkan sosok Ibu dalam posisi yang sangat tinggi dan tidak kalah penting dari peran kaum pria. Bahkan fungsi ibu, bukan hanya bersifat BIOLOGIS, melainkan juga bersifat STRATEGIS dan POLITIS sebagai arsitek generasi pemimpin masa depan.  Oleh karenanya Islam juga menuntut agar para wanita benar-benar menjalankan fungsi keibuan ini dengan sebaik-baiknya dan optimal. Sehingga, sekalipun Islam mengatur tugas dan peran kaum wanita sebagai anggota masyarakat, namun tugas dan peran tersebut tidak boleh mengalahkan peran dan fungsi utamanya sebagai ummun wa rabbat al-bayt (ibu dan pengatur rumahtangga).
Merujuk pada beberapa nash dan sekian banyak tauladan yang ditunjukkan dalam peri hidup para shahabiyat ra., setidaknya dapat diungkap beberapa criteria  yang harus dimiliki oleh setiap Ibu sehingga bisa mengoptimalkan peran dan fungsinya dalam mempersiapkan generasi unggul, antara lain :

1)      Memiliki ketaqwaan yang tinggi yang dimanifestasikan dalam  pola pikir dan pola sikap  yang senantiasa bersandar pada Islam (bersyakhshiyyah Islamiyah/berkepribadian Islam).   Dengan ketakwaan yang tinggi, seorang ibu akan memiliki keyakinan bahwa anak adalah amanah Allah SWT. Ibu seperti ini akan menggembleng anaknya agar memahami hakekat dan tujuan hidup,  menanamkan keimanan yang kokoh akan Allah al-Khaliq sekaligus mengajarkan pada mereka untuk tunduk dan patuh pada aturan penciptanya. Adapun dengan berkepribadian Islam, seorang ibu akan tampil sebagai qudwah bagi anak-anak mereka dalam hal berpikir dan bersikap. Karena anak ibarat kaset kosong yang akan merekam segala tindak-tanduk orangtuanya, terutama ibu, sehingga kepribadian ibu juga akan dicerap menjadi kepribadian anak-anaknya.
2)      Memiliki  kesadaran untuk mendidik anak sebagai asset perjuangan dan masa depan umat.  Saat ini umat membutuhkan pemimpin-pemimpin yang tangguh dalam perjuangan untuk bangkit kembali sebagai khoyru ummah sebagaimana yang seharusnya (Lihat QS. Ali-Imran 110). Pemimpin yang tangguh hanya lahir dan terbentuk dari ibu yang tahu persis posisi anak sebagai asset perjuangan dan masa depan umat. Ibu yang memiliki kesadaran semacam ini akan berusaha menumbuhkan jiwa kepemimpinan anak, membekali anak dengan sifat-sifat terpuji bagi seorang pemimpin seperti karakter mandiri, rela berkorban, lemah lembut, bertanggungjawab, peduli umat berikut ilmu-ilmu lain yang dibutuhkan.
3)      Memiliki kesadaran politik Islam. Kesadaran politik Islam artinya memahami dan meyakini bahwa pemeliharaan urusan-urusan umat (politik = pemeliharaan urusan-urusan umat) harus diatur dengan syariat Islam. Inilah bentuk kesadaran politik yang paling mendasar. Seorang muslim seharusnya paham dan yakin, bahwa ajaran Islam sempurna dan menyeluruh, termasuk mengatur masalah politik. Karena setiap muslim wajib masuk ke dalam Islam kaffah, maka jelas semua hokum-hukum yang menyangkut politikpun harus diimani dan diamalkan, termasuk oleh para ibu. Dengan demikian, seorang ibu juga harus memiliki ilmu yang utuh tentang syariat Islam, bagaimana penerapannya dalam kehidupan, siapa yang berkewajiban menerapkan, urusan apa yang menjadi hak dan kewajibannya dan apakah hokum-hukum itu sudah tertunaikan.  Dengan demikian, seorang ibu yang memiliki kesadaran politik Islam akan memiliki kepekaan yang tinggi dalam melihat kedzaliman-kedzaliman yang menimpa umat akibat tidak diterapkannya aturan-aturan Islam. Diapun akan berperan untuk menghilangkan kedzaliman itu dengan aktivitas dakwah dan menjadikan anak-anaknya juga menjadi kader dakwah yang turut mengawal pelaksanaan syariat Islam dalam mengatur urusan-urusan kehidupan masyarakatnya.
4)      Memiliki pengetahuan yang luas tentang konsep pendidikan anak. Sekalipun seorang ibu sudah memiliki 3 poin criteria di atas, pada tataran praktis dia membutuhkan ‘ilmu tambahan’ terkait dengan konsep pendidikan anak sesuai dengan tahapan perkembangannya agar pembentukan generasi unggul dapat terwujud dengan baik. Misalnya bahwa setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda sehingga membutuhkan perlakuan dan metoda pendekatan yang berbeda. Atau bahwa perubahan pendidikan yang terjadi pada masing-masing anak tidak sama dan instan, tetapi bertahap. Maka disinilah dibutuhkan ekstra kesabaran dan tidak boleh membanding-bandingkan kemampuan anak. Atau juga pengetahuan terkait  masa emas anak yang harus ditangani secara optimal oleh setiap ibu agar pembentukan dasar-dasar proses berpikir anak dan tumbuh kembangnya bisa dimaksimalkan.
5)      Memiliki sifat penyayang, karena kasih sayang ibu merupakan jaminan awal bagi anak untuk tumbuh dan berkembang dengan baik dan aman.  Ibu penyayang akan memelihara anaknya dengan curahan kasih sayang sejak dalam kandungan hingga anak mampu mandiri, memiliki karakter penyayang, penuh empati dan bertanggungjawab, dimana karakter-karakter seperti ini mutlak dimiliki calon-calon pemimpin masa depan.
6)      Memiliki tutur bahasa yang baik (halus, fasih dan baligh), dimana ketika kita ingin menanamkan kecintaan anak kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tentu tidak bisa dilakukan dengan bahasa yang kasar atau kabur, melainkan harus dengan bahasa yang halus, lembut dan jelas (baligh).  Selain itu, dalam menyampaikan  ajaran Islam yang ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits yang nota bene berbahasa Arab, maka seorang ibu selayaknya menguasai bahasa Al-Qur’an ini.
7)      Memiliki kepekaan (ihsas) yang tinggi terhadap lingkungan.  Hal ini mengingat, lingkungan memiliki pengaruh yang besar terhadap tumbuh kembang anak.  Sehingga setiap ibu harus bisa memastikan anak-anaknya tumbuh dalam lingkungan yang baik dengan cara terlibat aktif dalam upaya mengubah suasana lingkungan yang buruk menuju kehidupan yang Islami.
8)      Memiliki rasa pengorbanan yang tinggi, mengingat peran ibu lebih dominan ‘memberi’ daripada ‘menerima’.  Dengan demikian, jika tumbuhnya rasa pengorbanan ini semata-mata karena ingin menggapai ‘ridha Allah’, maka hak-hak anak tetap akan terpenuhi secara pasti bagaimanapun kondisi ibunya.  Manakala (misalnya) seorang ibu menghadapi dua pilihan antara yang wajib (tugas utamanya) dan yang mubah (pekerjaan lainnya), maka tentu si ibu akan memilih yang wajib karena adanya dorongan ketaqwaannya kepada Allah SWT dan demi masa depan anak yang diharapkan.  Lebih dari itu, generasi masa depan yang ingin diwujudkan adalah generasi yang jiwa pengorbanannya tinggi untuk memperjuangkan ketinggian dan kemuliaan umat dan Islam.  Oleh karena itu, sudah pasti mereka membutuhkan para pembina yang membina mereka ke arah sana.  Dalam hal ini ibulah orang yang paling tepat sebagai pembina mereka sejak dini.

           
Inilah antara lain criteria ibu tangguh yang diharapkan oleh Islam. Sayangnya, sosok ibu tangguh yang dijamin akan mampu mendidik anak-anak unggul calon pemimpin masa depan ini masih sangat sedikit jumlahnya. Wajarlah jika potret generasi saat ini pun masih nampak buram.

Tanggungjawab Masyarakat dan Negara Dalam Upaya Otimalisasi Peran Ibu
            Kondisi ibu yang minus criteria ibu tangguh sebagaimana yang ada sekarang tentu tidak bisa diharapkan dapat melahirkan generasi unggul.  Masalahnya, sosok ibu tangguh tersebut tak bisa terbentuk dengan sendirinya. Demikian pula proses mempersiapkan generasi pemimpin masa depan tak bisa hanya bertumpu pada peran ibu. Selain factor individu yang menyangkut pemahaman mereka akan Islam, peran masyarakat dan negara pun sesungguhnya tak bisa diabaikan.
            Banyak fakta yang menunjukkan bahwa lingkungan/masyarakat sangat berpengaruh terhadap tumbuh-kembang dan kepribadian anak. Tak jarang anak yang berasal dari keluarga ideal, taat beragama, tumbuh menjadi anak bermasalah. Masyarakat yang rusak dan sakit seperti yang terjadi saat ini, tentu sulit melahirkan generasi yang berkualitas sekalipun bukan berarti tidak mungkin. Setidaknya, para orang tua akan merasa berat dan harus bekerja ekstra keras mendidik anak di tengah gelombang kemaksiatan dan krisis multidimensi yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Terlebih, kerusakan masyarakat berlangsung secara terbuka dan dijaja secara terus-menerus oleh berbagai media (televise, radio, handphone, internet, Koran, dll) tanpa bisa dibendung. Sementara itu,   sense of control dan budaya amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi ciri masyarakat Islam sudah tak nampak lagi.
Adapun Negara seharusnya bertanggungjawab untuk menjamin tumbuh kembang anak, sekaligus menjamin pelaksanaan peran ibu secara optimal dengan menciptakan kondisi yang kondusif melalui penerapan berbagai aturan kehidupan yang sahih. Sayangnya, saat ini negara seolah tak bisa berbuat banyak. Negara cenderung abai terhadap nasib generasi masa depan umat akibat krisis multidimensi yang membelit dan menuntut penyelesaian. Bahkan Penerapan aturan-aturan hidup sekuler yang jauh dari nilai-nilai Islam, mulai dari system ekonomi yang melanggengkan kemiskinan, system pendidikan sekuler yang hanya mencetak anak didik yang cerdas tapi kering iman, system hokum yang menguntungkan para koruptor dan penjahat, aturan social yang menumbuhsuburkan pornografi-pornoaksi dan dekadensi moral serta aturan-aturan rusak lainnya justru menjadi pengukuh kerusakan sistemik ini sehingga menyulitkan para ibu untuk mengoptimalkan perannya mempersiapkan generasi mumpuni. Bayangkan saja? Dalam kondisi carut-marut seperti ini, para ibu dengan tanggungjawabnya yang sedemikian berat, dipaksa terlibat mencari nafkah akibat tuntutan ekonomi. Pada saat yang sama, penerapan system pendidikan sekuler oleh Negara membuat para ibu kehilangan orientasi hidupnya sebagai seorang muslimah yang wajib terikat hokum-hukum syara, termasuk melaksanakan tanggungjawabnya mendidik generasi masa depan. Wajarlah jika mereka tak mampu menjalankan tugas dan tanggungjawab strategisnya ini sesuai yang diinginkan Islam. Padahal selama para ibu tersibukkan oleh urusan mencari nafkah di luar rumah; selama ibu masih tidak memahami pendidikan anak akibat para ibu terdidik dengan pendidikan sekuler,maka  selama itu pula generasi unggul tidak akan lahir. Bangsa kita akan terus terpuruk dan tidak mampu bangkit.
Oleh karena itu,  membangun kesadaran para ibu tentang tanggungjawabnya yang sangat besar, sekaligus menciptakan kondisi yang kondusif bagi terlaksananya tanggungjawab tersebut merupakan hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Caranya adalah dengan mendidik  para ibu dan masyarakat secara  keseluruhan dengan Islam kaffah, sekaligus bahu-membahu  membangun system politik Islam yang akan  menerapkan aturan/system hidup yang menjamin terlaksananya peran keibuan secara sempurna, baik di bidang ekonomi, politik, social, budaya dan keamanan, termasuk system pendidikan yang mampu mendidik para ibu, calon-calon ibu tangguh dan anak-anak calon pemimpin umat di masa depan.
Disinilah pentingnya kita merenung, apakah masih tersisa ghirah dan tanggungjawab kita akan masa depan Islam dan kaum muslimin ?.  Jika ya, maka  sepatutnyalah kita pertanyakan tentang peran kita dalam mengubah keadaan ini.  Apakah kita akan berbuat sesuatu, atau memilih  diam dan bertindak sebagai penonton, hanya karena kita berhitung, bahwa pengorbanan yang dituntut terlalu banyak ?  Jika demikian halnya, barangkali cukup jika hawa nafsu dan kebebalan akal kita ini ditundukkan dengan  satu peringatan saja, bahwa siapapun kita, suatu saat akan dikembalikan kepada Allah Azza wa Jalla, bersama seluruh catatan amal yang kita lakukan  selama kita hidup di bumi milik-Nya.
Pada akhirnya, semoga para muslimah kembali menyadari akan besarnya tanggungjawab mereka terhadap masa depan Islam dan kaum muslimin, sehingga mereka akan terpacu untuk berlomba meraih kembali kemuliaan sebagaimana para ibu di masa Islam terdahulu, yakni dengan membina diri mereka dan masyarakat dengan pemikiran-pemikiran Islam dan membentuk pola sikap mereka dengan aturan-aturan Islam, sekaligus berjuang menegakkan syari’at Islam dalam wadah Khilafah ala Minhajin Nubuwwah.  Dengan demikian, mereka akan siap menjadi pendidik dan pencetak generasi mumpuni yang juga akan membawa ummat ini kepada kebangkitan hakiki seperti yang diinginkan.  Insya Allah.


------------------------------------
                               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar