IBU TANGGUH,
ARSITEK GENERASI UNGGUL
Wanita adalah
tiang negara. Ungkapan ini demikian
akrab dalam ingatan kita, sehingga saking akrabnya, kita terkadang lupa untuk
mengingat kedalaman makna yang dikandungnya.
Sebagaimana layaknya sebuah tiang, wanita
diibaratkan sebagai penyangga bagi tegaknya sebuah masyarakat/negara. Ini berarti keberadaan kaum wanita baik dan
buruknya, sangat menentukan eksis tidaknya
sebuah masyarakat atau negara, mengingat bahwa wanita, terutama dalam
kedudukannya sebagai ibu berperan sangat penting dalam membentuk dan membangun sosok suatu
generasi. Wajar jika dalam pandangan Islam, sosok Ibu diposisikan sebagai figur sentral pendidikan dengan
menjadikannya sebagai madrasah pertama
(madrâsat al-ûlâ) bagi anak.
Jika kita tengok gambaran
masyarakat Islam masa dahulu, akan kita dapati bahwa pada masa-masa itu telah
lahir sosok generasi berkepribadian Islam mumpuni, yang rata-rata memiliki
mentalitas mujahid sekaligus
intelektualitas mujtahid. Pada diri
mereka tertanam keyakinan yang kuat, bahwa mereka ada semata-mata demi dan
untuk Islam. Sehingga dengan ghirah yang
demikian, umat Islam saat itu mampu
bangkit menjadi “khoiru ummah” yang
memimpin umat-umat lain dalam seluruh aspek kehidupan mereka, menjadi mercusuar
peradaban luhur manusia yang eksis hingga
belasan abad lamanya.

