Senin, 28 November 2011

IBU TANGGUH, ARSITEK GENERASI UNGGUL



Wanita adalah tiang negara.  Ungkapan ini demikian akrab dalam ingatan kita, sehingga saking akrabnya, kita terkadang lupa untuk mengingat kedalaman makna yang dikandungnya.
Sebagaimana layaknya sebuah tiang, wanita diibaratkan sebagai penyangga bagi tegaknya sebuah masyarakat/negara.  Ini berarti keberadaan kaum wanita baik dan buruknya, sangat menentukan eksis tidaknya  sebuah masyarakat atau negara, mengingat bahwa wanita, terutama dalam kedudukannya sebagai ibu berperan sangat penting  dalam membentuk dan membangun sosok suatu generasi. Wajar jika dalam pandangan Islam, sosok Ibu diposisikan  sebagai figur sentral pendidikan dengan menjadikannya sebagai madrasah pertama (madrâsat al-ûlâ) bagi anak.
Jika kita tengok gambaran masyarakat Islam masa dahulu, akan kita dapati bahwa pada masa-masa itu telah lahir sosok generasi berkepribadian Islam mumpuni, yang rata-rata memiliki mentalitas mujahid sekaligus intelektualitas mujtahid. Pada diri mereka tertanam keyakinan yang kuat, bahwa mereka ada semata-mata demi dan untuk Islam.  Sehingga dengan ghirah yang demikian,  umat Islam saat itu mampu bangkit menjadi “khoiru ummah” yang memimpin umat-umat lain dalam seluruh aspek kehidupan mereka, menjadi mercusuar peradaban luhur manusia yang eksis hingga  belasan abad lamanya.

Sabtu, 26 November 2011

Memaknai Tahun BAru Hijriyah 1 Muharam 1433 H



Tahun 1432 H telah berakhir dan datanglah tahun baru 1433 H. Belum genap satu bulan yang lalu, dunia baru saja menyambut tahun baru masehi 2011 dengan penuh gegap gempita, pesta pora di mana-mana, kembang api menandai tenggelamnya tahun 2010 dan datangnya tahun baru 2011 dan kini umat Islam menyambut tahun baru 1433H. Menyadari hakikat tahun baru hijrah, umat Islam sebagai umat terbaik dan sepatutnya menjadi suri tauladan yang baik kepada orang lain haruslah mempunyai cara dan sikap yang menjunjung tinggi ajaran wahyu dalam menyambut datangnya tahun baru hijrah, agar dapat membedakan dengan cara dan adat orang lain.

Sebagai Ummat Islam, Ummat Nabi Muhammad SAW, sepatutnya kita menyambut pergantian tahun yang ditentukan oleh Allah sebagai tahun yang dipakai dalam penentuan waktu dalam menjalankan Syariat Islam. Cara memperingati tahun baru seperti yang Rasulullah SAW sabdakan : " Barang siapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzuhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharrom, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Dan Alloh ta'ala menjadikan kaffarot / tertutup dosanya selama 50 tahun.

Pluralitas, Konflik dan Kearifan Dakwah

Supraptoí

A. Prolog

Dalam satu dasawarsa  terkahir,  beberapa tragedi kemanusiaan yang memilukan sekaligus mengkhawatirkan berlangsung  silih berganti di Indonesia.[1] Serentetan peristiwa kerusuhan  sosial (riots) itu telah membelalakkan mata semua orang tentang apa yang sedang terjadi di negara yang dulunya dikenal damai dan ‘adem ayem’ ini. Konflik sosial yang sejatinya merupakan bagian dari a dinamic chance dan karenanya bersifat positif -demikian menurut Lewis Coser[2]- telah berubah menjadi amuk massa yang nggegirisi yang sulit diprediksi kapan berakhirnya.[3] Tidak hanya eskalasi konflik yang kian bertambah, sifat konflik pun berkembang tidak hanya horizontal tetapi juga vertikal.
Banyak orang susah mencari penyebab dari semua ini. Kerumitan mengurai penyebab konflik yang mendadak sontak merebak di hampir semua tempat di tanah air berbuntut  pada ketidakmampuan menemukan formula jitu bagi sebuah resolusi konflik yang manjur. Sesuai dengan bentuk, jenis dan eskalasi konflik yang memang beragam, beragam pula faktor penyebabnya. Penyebab konflik dapat berupa  faktor politik, kesenjangan ekonomi, kesenjangan budaya, sentimen etnis dan agama. Hanya saja, faktor ekonomi dan politik sering ditunjuk berperan paling dominan dibanding dua faktor yang disebut terakhir. Kendati acap  terlihat di lapangan bahwa konflik yang ada kerap menggunakan simbol-simbol agama misalnya pembakaran dan perusakan tempat-tempat ibadah, penyerangan dan pembunuhan terhadap penganut agama tetentu, namun pertentangan agama dan etnis ternyata hanyalah faktor ikutan saja dari penyebab konflik yang lebih kompleks dengan latar belakang sosial, ekonomi dan politik yang pekat.

Mengenal Dakwah Kultural Muhammadiyah



Ketika berbicara masalah Dakwah Kultural di Muhammadiyah, tentu tidak akan bisa melupakan keberadaan Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus, Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam, serta Lembaga Seni Budaya Muhammadiyah. Majelis Tabligh berbicara masalah Dakwahnya, Majelis Tarjih berbicara masalah batas-batas yang mungkin dilakukan sesuai syariah dan Lembaga Seni Budaya berbicara mengenai implementasinya.

Dakwah Muhammadiyah, menurut Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah,  sebagai upaya menjadikan Islam agama rahmatan lil- 'alamin idealnya
menyentuh segala lapisan dan kelompok masyarakat. Untuk konteks Indonesia khususnya Jawa)  misalnya,  meminjam kategorisasi Clifford Geertz, dakwah Islam seyogyanya  menyentuh tiga varian masyarakat yaitu abangan, santri dan priyayi. Atau dengan kategorisasi Muhammadiyah sendiri, dakwah itu haruslah menyentuh umat ijabah dan umat dakwah sekaligus.

Rabu, 23 November 2011

Pendidikan Agama dan Multikulturalisme


Oleh : Muh. Khamdan   
Friday, 24 Nopember 2011 14:15
Belakangan ini isu kekerasan keagamaan masih saja menghantui kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama melalui aksi pemaksaan kehendak untuk diikuti kelompok lain di luarnya. Kenyataan tersebut jelas terlihat dalam aksi anarkis beberapa Ormas keagamaan semacam Front Pembela Islam (FPI) di berbagai daerah dalam memaksakan kebenarannya.
Tindakan kekerasan dengan dalih penertiban merupakan kausalitas dari posisi negara yang tidak mampu memerankan posisi strategis. Hubungan tersebut adalah ketidakmampuan dalam menjamin kesejahteraan ekonomi masyarakat, tidak profesionalnya aparat penegak hukum dengan sikap yang lembek, dan pemahaman doktrin keagamaan yang mendasarkan pada teks tanpa semangat mengintegrasikan dengan dunia realitas yang plural sekaligus berintegrasi dengan globalisasi.