Tahun 1432 H
telah berakhir dan datanglah tahun baru 1433 H. Belum genap satu bulan yang
lalu, dunia baru saja menyambut tahun baru masehi 2011 dengan penuh gegap
gempita, pesta pora di mana-mana, kembang api menandai tenggelamnya tahun 2010
dan datangnya tahun baru 2011 dan kini umat Islam menyambut tahun baru 1433H.
Menyadari hakikat tahun baru hijrah, umat Islam sebagai umat terbaik dan
sepatutnya menjadi suri tauladan yang baik kepada orang lain haruslah mempunyai
cara dan sikap yang menjunjung tinggi ajaran wahyu dalam menyambut datangnya
tahun baru hijrah, agar dapat membedakan dengan cara dan adat orang lain.
Sebagai Ummat
Islam, Ummat Nabi Muhammad SAW, sepatutnya kita menyambut pergantian tahun yang
ditentukan oleh Allah sebagai tahun yang dipakai dalam penentuan waktu dalam
menjalankan Syariat Islam. Cara memperingati tahun baru seperti yang Rasulullah
SAW sabdakan : " Barang siapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan
Dzuhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharrom, maka ia
sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun
yang akan datang dengan puasa. Dan Alloh ta'ala menjadikan kaffarot / tertutup
dosanya selama 50 tahun.
Pada awal tahun
Hijriyah itulah permulaan fajar Islam mulai menyingsing dengan di awali dengan
Hijrahnya Rasulullah SAW bersama para sabiqulan awwalun dari Kota Makkah ke
Kota Madinah. Itulah tonggak sejarah Islam ,Ummat Islam, dicanangkan ke seluruh
dunia. Kedatangan tahun baru Islam agak sepi akibat begitu lama umat Islam
terjajah dan terlalu membesar-besarkan penggunaan kalendar masehi dibandingkan
tahun hijrah dalam kehidupan sehari-hari. Budaya ini menyebabkan umat Islam
sendiri tidak ingat bulan-bulan dalam Islam kecuali Ramadhan, Syawal dan
Zulhijjah saja.
Inilah antara
lain usaha besar kaum kuffar merusak serta menjauhkan umat Islam dari ruh
Islam, termasuk memastikan umat Islam tidak menghayati tahun hijrah dalam
kehidupan. Agak jarang umat Islam mengucapkan selamat tahun baru, umat Islam
sudah terjajah oleh budaya kuffar. Mungkinkah umat Islam mampu memperkasai
kembali penggunaan tahun baru hijrah. Jawabannya ada pada tindakan dan
kesungguhan umat Islam dalam merealisasikannya. Jika dalam pemakaian tahun pun
susah kita berhijrah maka mungkinkah kita mampu hijrah dari sistem jahiliah
kepada sistem Islam.
Marilah kita
berhijrah dari jahiliah kepada Islam, kufur kepada iman, lemah kepada kuat,
sesat kepada kebenaran, kegelapan kepada cahaya, dosa kepada pahala, mundur
kepada maju. Oleh karenanya marilah insaf bahwa jika kita ingin mengembalikan
ruh hijrah sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w dan para sahabat
sehingga Islam mampu merajai dunia maka kita harus kembali kepada Islam dalam
secara ”kaffah” atau totalitas dalam semua aspek kehidupan. Sebagaimana kita
ketahui bersama hijrah Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam dari Mekah ke
Madinah telah membawa perubahan besar terhadap peradaban umat manusia,
perubahan dari zaman jahiliah menuju peradaban madaniah di bawah naungan cahaya
Illahi dengan kata lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan
perubahan yang paling fundamental dalam kehidupan, dari kehidupan yang tidak
memiliki peradaban ke arah kehidupan yang penuh rahmat ampunan dan kasih
sayang.
Teladan yang
diberikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita semua,
memberikan inspirasi penting untuk membangun sebuah peradaban baru di masa yang
akan datang, kita dapat mengambil pelajaran bagaimana beliau mulai membangun
peradaban Islam dari tataran induvidual menuju tataran sosial yang lebih baik.
Pada tataran individual Rosullalah menegakkan hakidah nafsiah yaitu menegakkan
hakidah dalam diri setiap insan. Hal ini mengandung makna bahwa segala sesuatu
yang kita rencanakan untuk berubah justru harus dimulai dengan melakukan
perubahan dari diri sendiri. Perubahan yang kemudian lebih meluas membangun
komitmen bersama kearah pembentukkan sebuah tatanan kehidupan yang diterapkan
pada masyarakat Madinah.
Rosullalah
shallalahu ‘alaihi wasallam membangun sebuah konsep sya’riah istima’yah yaitu
konsep hukum kemasyarakatan yang meliputi penegakkan hukum, sosial, politik dan
ketatanegaraan. Dari Madinah lah kita menyaksikan apa yang dikenal dengan
persamaan di depan hukum dan pemerintahan, dipraktekkan secara bermartabat dan
beradab, dari Madinah pula kita menyaksikan bagaimana hukum ditegakkan secara
hugas, demikian juga dengan kerjasama antar kelompok yang berbeda keyakinan
agamanya, tentu masih banyak pelajaran berharga yang kita petik dari
Rosullalah, karena itulah tidak berlebihan kalau saya menggunakan kesempatan
yang sangat membahagiakan ini, untuk menyeruhkan kepada seluruh umat Islam di
tanah air agar senantiasa mempelajari, menggali dan mengaktualisasikan semuanya
itu dalam kehidupan sehari-hari.
Dari sekian ragam
peristiwa penting Islam, peristiwa hijrah sesungguhnya menempati posisi yang
utama. Sebab, peristiwa ini bukan saja menandai babak baru penanggalan Islam
yang ditetapkan oleh Umar bin Khattab, melainkan juga menjadi titik balik
peradaban Islam terkonstruksi dengan gemilang. Karena itulah, setiap tahunnya
kita memperingati peristiwa hijrah sebagai tahun baru Islam. Harapannya, tentu
di samping memutar kembali klise peristiwa fenomenal itu, juga mencoba
memunguti makna hijrah secara aktual dan kontekstual.
Puncak
kegemilangan sejarah Islam lewat momen hijriyah patut dibilang sebagai sebuah
revolusi tanpa kekerasan yang pertama kali dalam sejarah. Dalam waktu yang
cukup singkat Muhammad mampu mengubah wajah Kota Madina dari pola masyarakat
yang diskriminatif, primordialis-fanatis dan eksklusif menjadi masyarakat yang
terbuka, egaliter, dan penuh dengan nilai-nilai persaudaraan. Kota Madina yang
awalnya selalu diselimuti oleh pertentangan antarsuku menjadi komunitas yang
dipenuhi oleh semangat kolektif untuk membentuk peradaban baru.
Atas kesuksesan
ini sangat beralasan bila Michael Hart dalam The 100: A Rangking of The Most
Influental Person in History telah menempatkan Muhammad pada urutan pertama.
Muhammad tidak hanya sukses membangun peradaban baru Islam tetapi juga mampu
mengombinasikan unsur sekuler dan agama dalam satu racikan peradaban Madina.
Muhammad tidak hanya tampil sebagai seorang agamawan yang selalu mendermakan
pesan spiritualnya, tetapi ia juga tampil sebagai negarawan yang adil dan bijaksana.
Islam telah didudukkan tidak hanya sebagai agama yang berisi panduan ritual,
tetapi juga sebagai etik-moral yang selalu hidup di tengah masyarakat.
Menyadari
keagungan sejarah “hijrah” ini maka tidak khilaf apabila umat Islam menetapkan
tahun barunya dengan merujuk pada sejarah hijriyah. Hal ini mempunyai arti
bahwa lembaran baru Islam tidak dibuka dengan keagungan seorang tokoh semisal
dengan memperingati kelahiran Nabi. Akan tetapi, Islam mengawali setiap
lembaran barunya dengan semangat kelahiran peradaban baru Islam di Madina.
Apa yang
diharapkan dengan dijadikannya hijriyah sebagai tahun baru Islam? Pada tanggal
1 Muharram 1433 —yang bertepatan dengan 27 Nopember 2011—kembali umat Islam memperingati sejarah
sucinya. Sudah seribu empat ratus dua puluh tujuh tahun peristiwa ini berlalu.
Namun, semenjak itu pula semangat hijriyah tidak pernah usang dimakan zaman
karena selalu disegarkan dengan peringatan dan perayaan setiap tahunnya. Oleh
karenanya, setiap kali umat Islam merayakan tahun barunya seketika itu pula
semangat umat Islam disegarkan.
Setiap tahun
kaum muslim kembali diingatkan dengan memori keemasan sejarahnya. Dan, setiap
tahun pula semangat dan makna hijriyah ini akan menjadi kekuatan yang
merevitalisasi dan mampu mendorong semangat umat Islam. Tentunya semangat
hijrah diharapkan mampu menjadi semangat baru bagi umat Islam dalam memulai
sejarahnya pada detik ini dan pada masa selanjutnya. Karenanya, makna hijriyah
harus terinternalisasi dalam diri kita dan diolah menjadi sikap yang luhur dan
dinamis dalam menata masa depan yang lebih baik.
Melihat
kenyataan ini Indonesia
tampaknya harus menjalani hukum sejarah dari sebuah peradaban. Tentunya bangsa
ini tidak memaknai “hijrah” dengan perpindahan fisik layaknya “hijrah”nya Nabi
meningalkan Makkah. Yang bisa dilakukan oleh bangsa ini adalah hijrah maknawi.
Artinya, bangsa Indonesia
butuh semangat “hijrah” dari kemerosotan ekonomi, sosial, politik dan hukum
menuju peradaban yang mencerahkan. Peradaban yang lebih menjamin kesejahteraan
masyara-kat, keterbukaan dan penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Tahun baru
hijriyah sudah semestinya menjadi momentum untuk merenungkan kembali eksistensi
bangsa Indonesia
di titik paling nadir. Untuk itulah, hijriyah yang diperingati oleh umat Islam
dan juga bangsa Indonesia
kali ini diharapkan menjadi refleksi panjang bangsa ini untuk merajut perubahan
yang sebenarnya, yang subtantif, produktif dan populistik. Semangat hijrah akan
menjadi modal untuk mengembalikan kegairahan inisiatif perubahan tersebut. Oleh
karenanya, sangat rugi dan sia-sia apabila hijriyah yang akan kita peringati
bersama hanya sebatas pada refleksi seremonial.
Pada momen ini
bangsa Indonesia
berkesempatan untuk menguak makna dan semangat hijriyah bagi keberadaban
dirinya sendiri. Hijrah berarti pula berubah untuk membangun peradaban baru
seperti Nabi meninggalkan Makkah dan membentuk komunitas baru yang
berperadaban. Semoga bangsa Indonesia
mampu “hijrah” dari penderitaan yang membelitnya menuju bangsa yang
berkeadaban.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar